Tuesday, January 26, 2016

Jalan Panjang Akber Bali

Cerita Akber Oleh Lugu Gumilar

2011 adalah tahun kedua saya tinggal di Bali. Setelah satu tahun menyesuaikan diri, akhirnya saya mulai berbaur dengan teman-teman dan komunitas di sini. Berbekal informasi dari Balebengong.net, portal jurnalisme warga paling keren di Bali, akhirnya saya bisa ikut kelas perdana Akber Bali. Sebelumnya saya sudah membaca tweet-tweet tentang Akademi Berbagi di Jakarta dari beberapa tokoh yang saya follow. Menarik, akhirnya di Bali ada juga kelas Akademi Berbagi.

Kelas perdana di Bulan Desember 2011, bertempat di Museum Sidik Jari. Flyer online atau e-flyer yang menarik perhatian menyebutkan guru atau pembicaranya adalah Fahd Djibran dengan tema Creative Wri’Think’: Fiksi Lintas Media. Saya tidak begitu mengenal guru maupun siapa di balik Akber Bali ini sebelumnya. Sampai akhirnya saya datang ke lokasi dan bertemu Mas Hendra, yang sebelumnya juga bertemu di acara penanaman pohon bersama komunitas lain. 

Setelah ngobrol sedikit, kelas pun dimulai. Kelasnya asik, dan ramai meski ini kelas perdana. Dan akhirnya saya tahu di balik Akber Bali ini ada 3 orang relawan, yaitu; Mas Hendra, Rizeki, dan Mas Adi sebagai kepala sekolah. Kelas kedua, saya tidak bisa datang karena ada pekerjaan. Barulah di kelas ketiga, sekitar bulan Februari 2012, saya hadir kembali sebagai peserta. Tema kelas itu adalah Brand Yourself, dengan Dewi Okinawa sebagai guru/pembicaranya. Seperti sebelumnya, kelasnya asik, bahkan tempatnya di taman belakang Art Veranda, sebuah tempat yang asik milik arsitek terkenal di Bali. Di kelas inilah akhirnya saya memberanikan diri untuk ikut bergabung bantu-bantu apa yang bisa dibantu di Akber Bali. 

“Saya bisanya nge-desain, Mas. Jadi kalau mungkin Mas Rizeki sedang berhalangan, mungkin saya bisa urun desain flyer.” Begitulah kalimat yang saya lontarkan ke Mas Hendra. Kelas selanjutnya, karena satu dan lain hal mendadak sekali. Tidak ada e-flyer, hanya info di twitter bahwa kelas keempat mengambil tema Desain Grafis dan Kelokalan Kita, diadakan di kantor BOC. Karena mendadak juga, saya hanya datang sebagai peserta. Barulah di kelas kelima saya didapuk untuk mendesain e-flyer dengan tema kelas Mencintai dengan Sadis, oleh Daniel Prasatyo.

Mas Adi dan Mas Hendra biasanya lebih dulu bertemu dengan calon relawan pengajar, baru setelahnya memberi info ke saya dan Rizeki via email untuk pengadaan kelas. Begitu juga di kelas kelima. Meski waktunya mendadak (lagi) dan tidak memungkinkan bikin e-flyer. Info kelas kami sebarkan ke teman-teman dekat dan via twitter maupun sms. Kelas bertema Improvisasi, Kreatifitas & Jatidiri Lewat Musik Jazz menggandeng komunitas Underground Jazz Movement tetap berlangsung seru. 

Kelas-kelas selanjutnya, saya kembali dapat amanah jadi tukang bikin e-flyer. Problema tentang sedikitnya peserta di kelas-kelas sebelumnya membuat teman-teman berinisiatif dengan mencetak flyer dan disebar ke beberapa kampus potensial di Denpasar. Review kelas juga biasanya Mas Hendra berinisiatif menuliskannya di blog-nya sendiri. Beberapa kali, kami juga sempat kesulitan mendapatkan guru dan jadwal yang tepat untuk mengadakan kelas. Ditambah kesibukan kami yang akhirnya membuat Akber Bali vakum sekitar 3 bulan. Mungkin semangat kami waktu itu sedikit kendor juga karena memikirkan bagaimana Akber Bali ini bisa menyatu, mendapat sedikit dukungan, atau paling tidak bisa bersama-sama memberi sumbangan solusi bagi teman-teman di Bali, terutama soal pendidikan. 

Sekitar bulan Januari, Mas Adi mengajak saya untuk ngobrol soal kelanjutan Akber Bali. Waktu itu dia bilang ada teman relawan dari Garut yang sekarang ada di Bali. Saya ajak dia untuk ketemu di Kopi Kultur yang waktu itu ada di Kerobokan. Kami sempat memberi info juga di twitter bahwa kita sedang kopdar dan ngobrol santai disana. Setelah saya, Mas Adi, dan Milli yang ternyata mantan kepala sekolah Akber Garut ngopi dan ngobrol singkat, ternyata ada beberapa follower yang merespon tweet kami. Fahri Bakhar dan beberapa teman akhirnya bergabung dan ngobrol semakin serius tentang mau dibawa kemana Akber Bali ini. Masukan dari Milli teman-teman inilah yang akhirnya membangunkan Akber Bali dari tidur panjangnya. Obrolan ini juga akhirnya “memaksa” Milli dan Fahri bergabung menjadi relawan Akber Bali. 

Kami sepakat, kali ini Akber Bali memulai lembaran barunya. Kami mulai berbenah dari hal-hal kecil soal absen peserta, aktif twitter, hingga review kelas di blog Akber Bali. Kali ini, siapapun relawan juga mempunyai tanggung jawab untuk mencari guru. Saya mendapat giliran pertama, dan menghubungi Jeff Kristianto atas rekomendasi teman untuk mengadakan kelas tentang Volunteerism. Rizeki kembali mendesain e-flyer, Fahri mendata peserta, Milli memegang admin twitter dan membuka kelas. Kelas di The Sanur Space kali itu cukup ramai. Bahkan teman-teman dari komunitas lain juga ikut datang. Zenith yang juga sempat ngobrol bareng di kesempatan kopdar sebelumnya datang bersama temannya di Pigmy Marmoset untuk “latihan” bermusik di taman seusai kelas. Seru. 

Kelas selanjutnya, Mas Adi yang sebelumnya memang sudah galau karena akan meninggalkan Bali, meletakkan tongkat estafet kepala sekolah ke Milli. Dan kelas terus berlanjut meski kami tidak muluk-muluk, minimal satu bulan sekali harus ada kelas. Aktif datang ke acara-acara komunitas lain di Bali, dan mengajak teman-teman dekat jika ada kelas. Mbak Ainun juga sempat berkunjung disaat sebagian besar peserta adalah teman-teman yang saya ajak, jadi ketika ditanya “Tahu Akber dari mana?” Mereka menjawab “Dari Lugu!” 

Milli akhirnya juga harus pergi di beberapa bulan masa jabatannya karena urusan pekerjaan. Sebelumnya sudah ada Danu, Raka, dan Candra yang bergabung jadi relawan Akberbali. Akhirnya, setelah dua kali kepala sekolah dijabat oleh perantau, kini Fahri Bakhar sebagai anak muda aktif yang terlahir di Bali melanjutkan perjuangan sebagai kepala sekolah. Fahri yang awalnya sempat malu-malu akhirnya mau juga duduk di kursi fantasi kepala sekolah.

 Dari Fahri dan teman-teman ini, saya mendapat banyak pelajaran berharga tentang semangat dan optimisme anak-anak muda. Aktif, cinta tanah air, dan berpikiran terbuka. Meski saya juga belum berusia 30 tahun dan masih tergolong muda, tapi mungkin selama ini hanya memikirkan pekerjaan (dulu) dan bertahan hidup sampai-sampai saya sedikit melewatkan euphoria yang jadi bahan bakar semangat seperti pemuda-pemudi Bali ini. 

Sekitar pertengahan tahun 2014 saya, Fahri, dan Andri berangkat mewakili Bali ke Salatiga menghadiri acara Local Leadership Day yang merupakan acara temu muka dan workshop Akademi Berbagi. Acara ini diadakan dua tahun sekali, sementara kesempatan yang lalu adalah kali kedua diadakan. Dulu, sepulangnya Mas Hendra dan Mas Adi dari Bogor untuk LLD pertama, saya mendapat cerita tentang keriaan, kekeluargaan, dan banyak manfaat. Kali ini saya bertiga juga merasakannya. Lebih dari 200 orang dari kota-kota di Indonesia berkumpul di satu tempat. Dari awal kedatangan sampai hari-hari selanjutnya pastinya padat dengan acara perkenalan dan materi workshop yang istimewa. 

Saya memang membawa sketchbook kemana-mana, tapi apa daya, kesempatan untuk menyendiri dan mengabadikan suasana di sana tidak mungkin saya dapatkan. Jeda waktu coffee break atau makan lebih baik saya sempatkan mendengar cerita dari teman-teman baru. Seperti cerita Rossy saat backpacking dengan biaya minim, cerita Daniel sampai bisa berhenti merokok, dan cerita-cerita lain yang seru. Meski begitu, bukan berarti saya tidak berkarya. Dalam salah satu workshop di hari ke-dua, saya sempat membuat 'Dream Board' sederhana diatas kertas A3. 

Menjelang sore, panitia sempat mengumumkan akan ada 'Mysterious Gift' semacam tukar kado yang dijalankan secara acak dengan mengambil nama 'korban' yang akan disembelih. Eh, bukan, dikasi kado. Sebelum mengambil gulungan kertas berisi nama, saya sempat terpikir antara akan memberi sketchbook yang sudah penuh dengan gambar selama setahun, atau membuatkan gambar baru untuk nama yang muncul di gulungan kertas yang saya ambil. Sketchbook yang sudah penuh tadi ada beberapa yang belum saya backup/dokumentasikan. Jadi, saya terpikir untuk membuatkan gambar baru. Masalahnya, jika nama yang muncul nanti adalah nama yang belum pernah saya kenal, bagaimana harus sembunyi-sembunyi membuat karikatur wajahnya? :D 

Giliran ambil undian tiba. Teman-teman yang telah duluan ambil sibuk menyembunyikan ekspresi wajahnya. Ketika saya buka, kertas gulungan tersebut tidak ada nama! Hanya ada tulisan Dokumentasi I. Pergilah saya bertanya ke Mbak Dita, siapa sosok misterius dibalik tulisan itu. Ternyata yang dimaksud adalah Bang Roni. Untungnya Bang Roni sudah familiar karena sering mondar-mandir bawa kamera. Berarti PR selanjutnya adalah menggambar tanpa diketahui teman yang lain.

Hari sudah mulai petang, kambing dan sapi masuk ke kandang. Kami kembali berkumpul di ruang makan untuk menyantap hidangan. Setelahnya saat mengobrol di pelataran, beberapa teman sempat mendapat teguran, karena ramai membahas koneksi Wi-Fi dengan nama yang tidak pantas dituliskan. Kabarnya kayu api unggun sudah siap dibakar, dan kami semua turun ke lapangan. Beberapa duduk berkumpul demi mendapat kehangatan. Padahal, api bisa lebih menghangatkan daripada badan.

Mbak Ainun yang terlihat lelah maju ke depan sambil mengajak kami untuk sedikit rileks setelah berpikir seharian. Miko pun sempat menghibur dengan cerita dan tingkah lakunya. Dilanjutkan dengan acara menghaturkan 'Mysterious Gift' yang lebih lama dari jalannya api membakar kayu, serta hiburan lain berupa musik akustik dari tim yang tidak kenal lelah, malam itu jadi malam minggu istimewa, meskipun kabarnya banyak wanita disana sudah ada yang punya. Selesai api unggun, beberapa rekan memilih melanjutkan ngobrol karena besok sudah harus berpisah. Setelah menyampaikan amanah 'Mysterious Gift' ke Bang Roni, saya sempat keracunan udara segar dan mengemis amunisi ke Mbak Neny. Setelahnya, meski tidak terbiasa tidur di kasur empuk, saya memaksa memejamkan mata agar esoknya masih bisa tertawa. 

Pagi terakhir di Salatiga, sesi diskusi dengan Roby Muhamad menutup acara LLD. Sesi foto-foto makin tidak terkontrol hari itu. Namun, energi positif yang dikumpulkan semenjak hari pertama di Salatiga sangat terasa. Orang-orang baik yang berkumpul di sana pasti berbahagia. Kepulangan ke kota masing-masing akan membawa cerita. Berbagi energi positif dan cerita-cerita ke kota asal masing-masing. Bergerak bersama untuk kemajuan Indonesia. 

Berbekal semangat itu, kami di Bali memulai kembali kelas di bulan-bulan selanjutnya. Yang sebelumnya sebulan sekali, sedikit demi sedikit kita tingkatkan. Materi dan guru lebih beragam dan diharapkan mampu memberi solusi bagi teman-teman disini. Tempat pun tidak hanya melulu di Kota Denpasar, tapi kota-kota lain yang memang kami rasakan mampu diwujudkan. Dan sebenarnya ini bukan cerita akhir perjalanan. Ini awal. Dan jalan Akber Bali masih panjang, tidak pernah ada pilihan untuk berhenti. Karena berhenti berarti mati.


Sunday, October 25, 2015

Kelas 36 Writing Series: Travel Into Words with @beradadisini & @windyariestanty [Info]

Menurut Paul Theroux, travel writing adalah tulisan tentang banyak hal bukan tentang kursi kelas satu di pesawat, bukan tentang seminggu mencicipi anggur di tepi Sungai Rhine, bukan tentang akhir minggu di hotel berbintang lima. Bukan pula survei menu-menu sarapan mahal, bukan pencarian spa terbaik. Singkatnya bukan tentang liburan, bukan perpanjangan dari industri periklanan. Bukan sebuah tulisan yang butuh pengeditan berlebihan dan dipasang dengan foto indah. Dia tak perlu ditulis dengan penuh cita rasa, mungkin tak perlu faktual dan jarang tentang kesenangan. Travel writing yang baik, menurut Theroux adalah tentang perjalanan tentang penemuan yang beresiko, muram dan penuh horor, dengan akhir bahagia: to hell and back.

Bill Bryson menganggap travel writing adalah genre penulisan paling ramah, siap mengakomodasi semua hal. Sebuah buku atau essay yang mungkin akan masuk katalog sebagai memoir, humor, antropologi, atau sejarah, asalkan ditulis dengan beberapa poin, akan bisa menjadi satu travel writing.
Akhir-akhir ini seiring dengan munculnya travel blogger, penulisan travel writing semakin digemari. Melalui kelas ini, akan mengungkapkan sisi lain dari travel wiriting.




Tentang Hanny Kusumawati @beradadisini
Hanny Kusumawati menyukai kegiatan menulis, memotret. membaca, memasak. memanggang kue, tertawa, bepergian sendirian. Ketika traveling, biasanya ia membawa-bawa buku catatan dan bolpen. Perjalanan selalu menjadi momen yang menyenangkan untuk menulis—terutama untuk membunuh waktu ketika sedang menunggu transfer pesawat di bandara. Hanny tidak pernah berkeberatan melewatkan landmark atau tempat-tempat bersejarah lainnya di kota-kota yang saya kunjungi. Biasanya, ia justru lebih suka menghabiskan waktu di toko buku, kedai kopi, pasar loak, taman kota, atau sekadar mengobrol dan hang out dengan penduduk lokal maupun orang-orang asing yang saya temui dalam perjalanan. Biasanya, mereka membawa kisah kehidupan yang menarik. Kunjungi Hanny di blog www.beradadisini.com

Tentang Windy Ariestanty @windyariestanty
Seorang penulis sekaligus editor yang menyukai membaca, menonton manusia, traveling, dan pertemuan. Mulai dari bertemu ketidaktahuan, bertemu teman baru, atau bertemu apa saja, termasuk kesialan. Kunjungi Windy di blog http://windy-ariestanty.tumblr.com


Tentang Tempat
Kumpul Coworking Space adalah komunitas di Bali yang menyediakan ruang kerja profesional dan kesempatan kolaborasi.

Tujuan Kumpul menjadi platform untuk freelancer, konsultan dan independen yang bisa datang untuk pekerjaan sehari-hari mereka, dengan semua fasilitas modern kantor, suasana santai dan penghubung komunitas yang berkembang.

Untuk mengikuti kelas ini, Akberians bisa mendaftar melalui: bit,ly/akberbali

Thursday, October 15, 2015

Peserta Terpilih #AkberFokus Kelas Intensif Bahasa Inggris Bersama Retno Sofyaniek

Salam Berbagi Bikin Happy!

Berikut adalah nama-nama Akberians yang terpilih untuk mengikuti #AkberFokus Kelas Intensif Bahasa Inggris Bersama Retno Sofyaniek -  @NenoNeno ( Pendiri EnglishTips4U dan Active English)

1. Ni Putu Ika Nopitasari
2. Widayanti Arioka
3. Begawan Raka Dewata
4. Isnani Fitriyah
5. Abie Cahya Kusuma
6. Tri Tanami
7. Madia Debya
8. I Gusti Ayu Dewi Mahayanthi
9. I Gusti Ayu Agung Septiari
10. Indar Ratu Ardillah
11. Dewa Ayu Laksemi Pramesti
12. Putri Kusuma Wardhani
13. Popi Puspitasari
14. I Gusti Putu Arya Utama
15. Agus Hermawan

Catatan: urutan nama berdasarkan acak, bukan peringkat,

Kelas akan berlokasi di Kumpul Coworking Space, Rumah Sanur, Jalan Danau Poso Nomor 51, Sanur - Bali, untuk detil kelas agar Akberians terpilih membaca surat elektronik yang telah dikirimkan.

Sampai berjumpa di kelas!

Friday, May 16, 2014

Dari Kelas 25 Akber Bali; Tangkap Peristiwa, Angkat Ponselmu bersama @agungparames dan @antonemus

“Sebuah gambar mampu bercerita lebih dari seribu kata.” – NN.

Gambar atau dalam hal ini foto mampu membagi cerita bahkan berita. Pada kelas kedua puluh lima Akademi Berbagi Bali, yang mengambil tema “From Gadget To Journalism” kita mendapat wawasan baru dalam mengawinkan teknologi dan nilai berita. Kelas ini terselenggara berkat kolaborasi antara Akademi Berbagi Bali dan Sloka Institute, pada Minggu, 11 Mei 2014 di Desa Dusun kawasan Noja Ayung, Denpasar. Tampil sebagai guru, yaitu fotografer muda Bali, Agung Parameswara (@agungparames) serta Anton Muhajir (@antonemus), wartawan dan pengelola situs jurnalisme warga, BaleBengong (@balebengong).

Teknologi yang berkembang dengan pesat, memberi banyak kemudahan untuk kita, termasuk mendekatkan yang jauh. Kini, berbagi informasi semudah menyentuh layar smartphone akberians. Melalui jurnalisme warga, setiap warga dapat membagi informasi walaupun bukan berprofesi sebagai wartawan. Seperti tagline @UUProject dari Sloka Institute, no neuus without u (no news without you).

Anton memaparkan mengenai Blog yang kini semakin terpinggirkan oleh media sosial seperti Twitter dan Instagram. Namun, keinginan untuk membagi berita yang tidak surut justru dapat diakali melalui penggunaan foto jurnalistik melalui smartphone

Suasana kelas yang santai di salah satu sudut Desa Dusun
Pada sesinya, Agung menjelaskan keberadaan smartphone yang memudahkan dunia fotografi dan jurnalistik. Mayoritas warga, terutama generasi muda saat memiliki smartphone dilengkapi fasilitas kamera. Sehingga, siapa saja dapat menangkap kemudian mengabadikan momen melalui smartphone

Contoh nyata sinergi antara smartphone dengan media sosial yang dikemukan oleh Agung adalah peristiwa jatuhnya Pesawat Lion Air di pantai dekat Bandar Udara Ngurah Rai pada tahun lalu. Foto pesawat tersebut lebih dulu menyebar di Twitter dibanding berita resmi melalui Televisi.

Setelah penjelasan dari Agung, acara diselingi dengan sesi makan siang di Warung Suwung yang masih berada di dalam kompleks Desa Dusun. Kemudian, peserta diberikan kesempatan untuk terjun ke lapangan menangkap gambar dengan smartphone mereka. Mereka diberikan waktu satu jam, untuk mencari objek menarik di lingkungan Desa Kesiman Petilan. (Hasil bidikan peserta selengkapnya bisa di cek di Twitter dengan tagar #AkberBali25 dan #wajahkota)

Baik Anton maupun Agung sangat mengapresiasi usaha peserta dalam mengambil gambar. Ada yang memilih ke Bank Sampah, Dam, bahkan cukup jauh hingga ke Taman Kota, demi menjiwai tagar #wajahkota. Ada juga peserta yang begitu terinsipirasi, sehingga langsung menuangkan ceritanya dalam blog. Dari seluruh karya peserta, dipilih satu yang berhak mendapatkan hadiah kaos dari @UUProject.
Tradisi foto bersama di akhir kelas

Maka, selain ‘angkat pena’, ada alternatif lain untuk akberians praktikan. Angkat ponselmu dan tangkaplah momen bernilai berita! Dari dan untuk siapa saja, dimana saja, kapan saja.

Dari Kelas 24 Akber Bali; Boost Your Startup with Social Media Bersama @salsabeela

Melalui kelas Akademi Berbagi Bali kedua puluh empat “SocMed Your Startup” yang dilaksanakan 27 April 2014 di Hubud co-working space, Ubud kita bisa belajar banyak seputar penggunaan social media untuk memajukan startup. Guru yang berbagi wawasannya kali ini adalah Aulia Halimatussadiah lebih dikenal sebagai Ollie (@salsabeela). Selain seorang penulis, Ollie juga seorang technopreneur. Salah satu startup yang dibangunnya adalah situs self publishing pertama di Indonesia, NulisBuku.com.


Ollie menjelaskan, ada strategi tersendiri dalam memasarkan usaha di social media. Skill storytelling yang wajib dimiliki seorang pemasar (pengusaha), dipindahkan dalam social media. Semua itu adalah konsekuensi dari candu social media yang telah menyebar pada masyarakat. Ollie juga menekankan, bahwa tiap platform social media memiliki metode yang berbeda dalam penggunaannya, baik itu Facebook, Twitter, Instagram hingga Pinterest. 

Miss Ollie saat memulai kelas Akber Bali ke-24

Selayaknya pada kehidupan nyata, branding adalah hal pertama yang harus dibangun di social media.  Pada bagian branding, Ollie memberikan contoh salah satu merek tas terkenal yang dalam akun Pinterestnya memilih untuk menampilkan gambar-gambar yang colorful dibanding menampilkan gambar produk. Dari kegiatan itu, dapat ditangkap usaha perusahaan untuk membranding produknya sebagai tas-tas dengan warna yang menyala.

Dimanapun berada kita harus selalu bersikap baik. Maka, sebuah akun social media dari startup must to be kind. Semua peran dijalankan menjadi satu, mulai dari resepsionis hingga customer service, melalui sikap baik yang dikirimkan maka akan tersampaikan kesan yang positif terhadap startup. Sikap baik itu, bisa melalui kampanye dan kegiatan sosial yang dilaksanakan di social media. Dalam usaha menjadi baik ini, Ollie memberikan contoh sebuah perusahaan sepatu yang meluncurkan channel kegiatan sosial melalui situs YouTube. 


Suasana kelas di Hubud co-working space, Ubud.

Poin-poin lain yang tidak kalah penting adalah Useful, Informative and Entertaining.  Unsur feelings juga wajib dikedepankan, yaitu kesan apa yang ingin disampaikan oleh masyarakat yang mengikuti akun social media. Unsur tersebut penting karena akan menjadi alarm pengingat bagi pengikut akun startup kita. Misalnya, perasaan untuk produktif menulis yang diciptakan akun NulisBuku bagi pengikutnya. Setelah startup berjalan dan memiliki sejumlah customers, Ollie memaparkan adalah penting bagi pengusaha untuk melibatkan customernya. Misalnya dengan membagi cerita mereka di website.

Visual content juga sangat penting, sebagian besar orang lebih tertarik melihat content social media melalui gambar. Untuk itu, sebuah startup akan lebih baik bila menyiapkan terlebih dahulu content-content visual  untuk akunnya pada segala situasi. Pada akhir pemaparan, Ollie juga menyarankan untuk membentuk komunitas dan selalu mengikutsertakan customers.

Pada sesi workshop, Ollie membagi peserta menjadi lima kelompok dan memberi tantangan untuk membuat satu halaman proposal bisnis melalui social media. Melalui pemaparan masing-masing kelompok muncul beberapa ide menarik, baik dari peserta maupun guru. Sebelum mengakhiri kelasnya, Ollie menekankan jika tidak ada standar yang baku dalam penggunaan social media untuk startup. Pesannya Have fun! Experiment. Measure. Try. Again. So, let’s start IT akberians!
 
Foto bersama di akhir kelas.
Suasana kelas dari berbagai angle.

Tuesday, May 6, 2014

Kelas #AkberBali25 From Gadget To Journalism Bersama @agungparames dari Sloka Institute


Teknologi informasi mengubah hidup manusia. Dengan teknologi informasi, manusia kini semakin mudah berinteraksi, berbagi informasi, bekerja, dan seterusnya. Teknologi informasi, termasuk di dalamnya internet, membuat jarak dan waktu kian termampatkan.

Telepon seluler (ponsel) merupakan salah satu faktor penting dalam perubahan tersebut. Dengan ponsel pintar (smartphone),siapa saja bisa dengan mudah mengakses internet serta menjadi bagian dari warga dunia maya atau netizen. Sebagai netizen, sebenarnya setiap orang memiliki peluang yang sama untuk bisa terhubung dan terlibat dalam dunia maya. Ponsel pintar ini, misalnya BlackBerry, Android, iPhone, dan lain-lain.

Namun, secara umum, perkembangan teknologi informasi juga menyediakan sejumlah tantangan. Salah satunya adalah masih kurangnya kapasitas warga dalam menggunakan ponsel pintar. Dalam bahasa sederhana, warga atau konsumen di Indonesia masih lebih mudah membeli ponsel pintar namun belum tentu bisa memakai dengan baik.

Padahal, dari sudut pandang kebebasan informasi, teknologi informasi dan kemudahan menggunakan ponsel pintar bisa memberikan peluang besar bagi warga untuk terlibat dalam memproduksi informasi. Dengan ponsel pintar di genggaman tangan, warga kini bisa merekam dan menyebarkan berbagi bentuk informasi seperti teks, foto, maupun video melalui dunia maya. Warga adalah kunci utama dalam jurnalisme warga.

Untuk itulah, Sloka Institute, lembaga pengembangan media, jurnalisme, dan informasiyang selama ini mengelola dan mengampanyekan jurnalisme warga di Bali melaksanakan program UU Project. Program ini mengampanyekan dan memberikan pelatihan bagi warga dalam menggunakan ponsel untuk memproduksi informasi.

Tentang Guru
Agung Parameswara adalah fotografer yang bermukim di Bali, Indonesia. Agung lahir pada tahun 1990 di Pulau Bali, Indonesia. Ia telah lulus dari Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana. Ia bekerja sebagai fotografer lepas untuk berita dan fotografer travel.

Ia juga bekerja untuk Getty Images News sebagai fotografer pekerja lepas di Bali. Beberapa dari karyanya telah dimuat oleh The Jakarta Post, Majalah Garuda, Majalah Jalan-Jalan, The Age, The Daily Telegraph, Majalah Tempo dan Tempo English, Reuters, Daily Mail UK, The Guardian, TIME Lightbox, The New York Times, AP, The Wall Street Journal, National Geographic Traveler Indonesia, dll.

Pelatihan Fotografi:
  • Pelatihan Fotogragi Bali Jani, 2010.
  • Pelatihan Fotografi Jurnalisme dan Dokumenter Blips oleh Rio Helmi dan Olivier Nielson, 2010.
  • Beasiswa Pelatihan Fotografi Jurnalisme dan Dokumenter dilatih oleh Rahman Roeslan di Bali, 2010.

Tentang Tempat
Sloka Institute lahir untuk mendukung dan memperjuangkan hak publik atas informasi di Bali. Cita-cita ini dilakukan melalui upaya menumbuhkan kesadaran warga tentang hak atas informasi serta mendorong keterlibatan publik untuk mengelolanya.

Upaya mewujudkan cita-cita tersebut dilakukan melalui program Advokasi, Pendidikan, Penerbitan, dan Teknologi Informasi. Advokasi dilakukan untuk mendorong terwujudnya keterbukaan informasi publik, termasuk Undang-undang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) di Bali. Pendidikan dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas publik dalam memproduksi dan mengelola informasi. Penerbitan antara lain melalui penerbitan media alternatif terutama untuk kelompok masyarakat yang selama ini kurang mendapat tempat di media arus utama dan pengelolaan jurnalisme warga. Adapun program Teknologi Informasi dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas warga di bidang teknologi informasi.

Sloka Institute didirikan oleh wartawan, blogger, peneliti, praktisi media relation, dan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Bali pada 27 Maret 2007 dan berakta yayasan di notaris Wayan Nuaja, SH.

Wednesday, April 23, 2014

Kelas 24 'SocMed Your Startup' : How to Boost Your Startup With Social Media [Info]



Pertumbahan startup di Indonesia meningkat pesat dari tahun ke tahun, menurut laporan Deloitte pada Desember 2011 disebutkan bahwa penetrasi Internet Indonesia meningkat 9% & 2x lipat ditahun berikutnya. Tentunya perkembangan Internet ini menjadi salah satu pendorong perkembangan bisnis digital di Indonesia. Lewat keberadaan & pengelolaan social media yang baik, setiap startup memiliki media publikasi professional & kesempatan untuk menjangkau lebih luas & banyak target market.

Nulisbuku.com adalah salah satu startup dengan kategori selfpublishing online yang berkembang lewat pemanfaatan & interaksinya dengan pembaca di social media.

TENTANG GURU
Aulia Halimatussadiah (Miss Ollie / @salsabeela) adalah penulis dari 25 buku dan tecnopreneur, ia adalah co-founder Online Bookstore @KutukutuBuku & First Online Self Publishing di Indonesia yang bernama @NulisBuku. Ketertarikannya pada tecnopreneur diwujudkan dengan menginisiasi beberapa komunitas startup seperti #StartupLokal & Girls in Tech Indonesia. Selengkapnya http://www.salsabeela.com/about/

TENTANG TEMPAT
Hubud [hub-in-ubud] @hubudbali adalah ruang kolaboratif (co-working space) untuk bekerja, berkolaborasi & menjalin kerjasama dengan beragam komunitas kreatif lokal. Berlokasi di Jl. Raya Monkey Forest Ubud. Selengkapnya hubud.org

"SocMed Your StartUp" w/ @salsabeela | 27/4 9.30WITA at @HubudBali pic.twitter.com/04B9f7Okg1. Daftar bit.ly/akberbali GRATIS!